DAMPAK PEMBANGUNAN PERUMAHAN TERHADAP PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DAN
KONDISI SOSIAL-EKONOMI PENJUAL LAHAN DI KECAMATAN MLATI
Abstrak
Pertumbuhan jumlah penduduk dan tingginya angka kelahiran berakibat pada peningkatan kebutuhan perumahan. Konsekuensi logisnya adalah pada
perubahan penggunaan lahan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.Tujuan
penelitian ini adalah membandingkan perubahan penggunaan lahan dari tahun 2001,
2007, dan 2011; membandingkan luas pemilikan lahan para penjual lahan;
menjelaskan dampak pembangunan perumahan terhadapaspek penggunaan lahan (bentuk,
metode, dan orientasi); menjelaskan dampak pembangunan perumahan terhadap
kondisi sosial ekonomi penjual lahan.Penelitian ini menerapkan metode survei.
Teknik analisis yang digunakan yakni, analisis peta, uji perbandingan (T-Test),
korelasi, tabel frekuensi dan analisis deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan
perkembangan perumahan di Kecamatan Mlati sejak tahun 2004-2011 mencapai 68
kompleks perumahan. Laju perubahan penggunaan lahan pada periode 2001-2007
tertinggi ada di Desa Sinduadi (18,39 Ha/tahun), sedangkan pada periode
2007-2011 ada di Desa Sumberadi (5,52 Ha/tahun).Mayoritas penjual lahan
memiliki lahan < 2.000 m², dengan persentase lahan pertanian kurang dari
30%.Hasil uji komparasi menunjukkan rata-rata pendapatan responden
meningkatsetelah menjual lahan.
Kata
kunci: dampak, perumahan, penggunaan lahan, sosial-ekonomi, penjual lahan.
Akhir-akhir ini, separuh dari populasi
dunia tinggal di perkotaan dan diperkirakan antara tahun 2000 hingga 2015
jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan bertambah sebanyak satu miliar jiwa
sedangkan yang bertempat tinggal di perdesaan hanya bertambah sebanyak 125 juta
jiwa (UN-HABITAT, 2002). Kepadatan permukiman dan bangunan di Kota Yogyakarta
memunculkan Kawasan Aglomerasi Perkotaan Yogyakarta dan direncanakan menjadi
Pusat Kegiatan Nasional (Perda Provinsi DIY No.2 Tahun 2011).
Tingginya minat pendatang untuk
bertempat tinggal di wilyah Kabupaten Sleman memang memberi andil dalam
perkembangan wilayah. Setiapada pembangunan perumahan baru akan muncul
fasilitas pelayanan pendukung bagi para penghuni perumahan, mulai dari kompleks
pertokoan, rumah makan, hingga jasa pelayanan seperti warnet (warung internet)
dan sebagainya.
Kecamatan Depok, Kecamatan
Ngaglik, Kecamatan Mlati, dan Kecamatan Gamping merupakan bagian wilayah
Kabupaten Sleman yang berkembang dengan pesat menjadi kawasan perkotaan dan
pusat kegiatan baru. Keberadaan fasilitas pelayanan seperti kompleks perumahan,
beberapa universitas, pertokoan, fasilitas pelayanan dan jasa memengaruhi
banyaknya jumlah penduduk yang ada di kecamatan ini.
Kecamatan Ngaglik memiliki
pertumbuhan penduduk terbesar (0,0541) pada periode tahun 2000-2010 bila
dibandingkan dengan kecamatan lainnya walaupun letaknya tidak berbatasan
langsung dengan Kota Yogyakarta (tabel 1). Kecamatan Depok dan Kecamatan Mlati
memiliki jumlah penduduk dan pertumbuhan sedikit lebih kecil yakni 0,0527 dan
0,0439. Hal ini menunjukkan kecenderungan perkembangan wilayah yang dinyatakan
dengan pertumbuhan jumlah penduduk ke arah utara hingga barat. Kondisi ini
sangat erat kaitannya dengan kebijakan pembangunan perumahan dan fasilitas
pelayanan.
Tabel 1.
Jumlah Penduduk Kabupaten
Sleman
Tahun 2000-2010
|
|
Jumlah
|
Pertumbu
|
|
N
|
Kecamat
|
Penduduk
|
han
|
|
o
|
an
|
(Jiwa)
|
Penduduk
|
|
|
|
2000
|
2010
|
(r)
|
1
|
Berbah
|
39.70
|
50.75
|
0,0245
|
|
|
7
|
8
|
|
|
2
|
Cangkrin
|
25.99
|
28.17
|
0,008
|
|
gan
|
5
|
7
|
|||
|
|
||||
3
|
Depok
|
105.9
|
179.5
|
0,0527
|
|
74
|
23
|
||||
|
|
|
|||
4
|
Gamping
|
64.58
|
97.00
|
0,0406
|
|
9
|
8
|
||||
|
|
|
|||
5
|
Godean
|
56.29
|
65.86
|
0,0157
|
|
8
|
9
|
||||
|
|
|
|||
6
|
Kalasan
|
54.07
|
76.11
|
0,0341
|
|
8
|
8
|
||||
|
|
|
|||
7
|
Minggir
|
34.20
|
29.24
|
-0,0156
|
|
5
|
7
|
||||
|
|
|
|||
8
|
Mlati
|
65.22
|
101.2
|
0,0439
|
|
2
|
18
|
||||
|
|
|
|||
9
|
Moyudan
|
33.32
|
30.76
|
-0,0079
|
|
2
|
6
|
||||
|
|
|
|||
1
|
Ngaglik
|
59.14
|
100.6
|
0,0541
|
|
0
|
3
|
13
|
|||
|
|
||||
1
|
Ngempla
|
43.30
|
58.82
|
0,0306
|
|
1
|
k
|
6
|
3
|
||
|
|||||
1
|
Pakem
|
30.15
|
34.65
|
0,0139
|
|
2
|
7
|
5
|
|||
|
|
||||
1
|
Pramban
|
43.59
|
46.83
|
0,0071
|
|
3
|
an
|
1
|
7
|
||
|
|||||
1
|
Seyegan
|
41.79
|
45.03
|
0,0074
|
|
4
|
5
|
3
|
|||
|
|
||||
1
|
Sleman
|
54.65
|
62.56
|
0,0135
|
|
5
|
0
|
7
|
|||
|
|
||||
1
|
Tempel
|
45.85
|
49.30
|
0,0072
|
|
6
|
7
|
3
|
|||
|
|
||||
1
|
Turi
|
31.70
|
33.05
|
0,0041
|
|
7
|
0
|
2
|
|||
|
|
||||
|
Total
|
829.5
|
1.090.
|
0,0273
|
|
|
89
|
567
|
|||
|
|
|





Sumber :
BPS, tahun 2000 dan 2010

Urbanisasi di pinggiran kota
merupakan suatu dampak dari kondisi kota yang telah mencapai suatu titik jenuh
dan tidak mampu menampung aktvitas manusia. Pemadatan permukiman yang terus
menerus berlangsung di pinggiran kota merupakan perwujudan nyata dari kebutuhan
akan ruang di perkotaan meningkat (Giyarsih, 2001). Permukiman di sekitar kota
memiliki keuntungan, yakni dekat dengan tempat melakukan kegiatan sehingga
menghemat biaya transportasi. Namun bagi kalangan ekonomi menengah ke atas,
kenyamanan bertempat tinggal menjadikan alasan utama mereka tinggal di
perumahan yang lokasinya jauh dari kota.
Intensitas
penggunaan lahan maupun pemafaatan lahan akan meningkat karena wilayahnya
berkembang dengan pesat. Para investor atau pemilik modal akan semakin gencar
berinvestasi di daerah ini misalkan dengen membeli lahan maupun perumahan.
Perubahan kondisi aset penghidupan (dalam hal ini adalah lahan) baik karena
adanya penjualan maupun perubahan penggunaan lahan akan sangat berpengaruh
terhadap kegiatan ekonomi di wilayah ini. Perubahan penggunaan lahan pertanian
misalkan lahan sawah atau tegalan, menjadi lahan non pertanian mengubah cara
pemanfaatan dan hasil atau produksi lahan.
Kemampuan ekonomi masyarakat
sangat berpengaruh terhadap keputusan yang diambil oleh masyarakat pemilik
lahan. Ketika penghasilan dari pertanian tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan,
ada kemungkinan lahan akan dijual dan beralih profesi ke kegiatan non pertanian.
Namun bagi pemilik lahan yang menghendaki tetap bertahan dengan kegiatan
pertanian, terdapat dua kemungkinan.Kemungkinan
pertama pemilik lahan tetap mempertahankan lahan yang dimiliki dan tidak
menjual lahannya.Atau kemungkinan kedua, pemilik lahan menjual lahan dengan
harga tinggi untuk membeli lahan yang lebih murah.
Perubahan pemanfaatan lahan ini
tentu memunculkan berbagai pertanyaan terkait dengan aspek penggunaan lahannya.
Belum diketauinya keadaan pemilikan lahan masyarakat yang telah menjual lahannya,
bentuk dan luasan lahan yang dimiliki penjual lahan, metode perubahan pemilikan
lahan, produktivitas lahan, dan kondisi perekonomian rumah tangga penjual lahan
memunculkan suatu permasalahn yang perlu diteliti.
Berdasarkan latar belakang di
atas, maka tujuan penelitian iniadalah sebagai berikut:
1.
Membandingkan kondisi penggunaan
lahan di Kecamatan Mlati dan perubahannya antara tahun 2001, 2007 dan 2011.
2.
Membandingkan luas pemilikan
lahan penjual lahan sebelum dan sesudah pembangunan perumahan.
3.
Menjelaskan hubungan pembangunan
perumahan terhadap perubahan bentuk, metode, dan orientasi penggunaan lahan.
4. Menjelaskan dampak pembangunan perumahan
terhadap kondisi sosial ekonomi penjual lahan.
A. Pendekatan Kajian Penguasaan
Lahan Kajian penguasaan lahan secara geografis
memberikan perhatian khusus pada interaksi manusia dengan lingkungannya
(Wrigley 1967 dalam Bintarto dan Hadisumarmo 1979), dan lebih menekankan
orientasinya pada masalah, dalam kerangka interaksi manusia dengan lingkungan.
Tiga pendekatan yang biasanya digunakan untuk
kajian ilmu geografis yakni pendekatan aspek keruangan (spatial approach), pendekatan ekologi ( ecological approach), serta kewilayahan (regional complex) (Yunus, 2000). Pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan spasial dan pendekatan ekologis, yang menekankan deskripsi pada
kondisi penguasaan lahan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat berkaitan dengan
pembangunan perumahan.
Perubahan pemanfaatan lahan di pinggiran kota
ditekankan pada perubahan penguasaan lahan pertanian ke lahan permukiman, baik
dari aspek sebarannya maupun proses perubahannya (ekologikal). Hal ini berbeda
dengan pendekatan spasial yang menekankan pada intensitas pembangunan perumahan
terhadap perubahan pemilikan lahan.
2. Perumahan dan Permukiman
Berbicara mengenai perumahan lebih mengarah kepada
konsep fisik bangunannya namun apabila sudah berkaitan dengan permukiman maka
dapat dilihat sebagai komplekstitas antara kegiatan dan hubungan sosial manusia
yang hidup didalamnya. Menurut Charles Abrams, ahli perumahan PBB tahun
limapuluhan, perumahan bukan hanya lindungan saja, tetapi merupakan bagian dari
kehidupan komunitas dan keseluruhan lingkungan sosial.
Perumahan sesungguhnya berkaitan erat dengan
industrialisasi, aktivitas ekonomi, dan administratif serta berkaitan pula
dengan kebutuhan akan pendidikan (Abrams, 1964 dalam Kuswartojo, 2005).
3. Pendukung Perkembangan
Perumahan
Yunus (2001 dan 2005) mengemukakan bahwa terdapat 6
faktor yang mempengaruhi
proses perkembangan kota secara sentrifugal. Keenam
faktor itu adalah aksesibilitas fiskal, fasilitas pelayanan umum, karakteristik
lahan, karakter pemilik lahan, keberadaan peraturan tentang tata guna lahan
(penggunaan lahan), dan faktor prakarsa pembangunan perumahan atau investor.
a. Aksesibilitas Fiskal berarti kemudahan suatu wilayah untuk
dijangkau. Aksesibilitas dipengaruhi oleh aspek transportasi baik jaringan
jalan maupun moda transportasi.
b. Fasilitas Pelayanan Umum merupakan faktor
penarik agar penduduk datang ke wilayahnya.
c. Karakteristik Lahan berkaitan dengan kondisi topografi wilayah,
polusi udara, ketersediaan air bersih, drainase, bebas dari ancaman bencana,
air tanah bebas pencemar.
d. Pemilikan lahan, berkaitan dengan perubahan
pemilikan lahan. Masyarakat ekonomi lemah mempunyai keenderungan lebih tinggi
untuk menjual lahannya daripada yang status ekonominya lebih kuat.
e. Keberadaan peraturan yang
mengatur tata guna lahan. Salah satu faktor yang berpengaruh kuat terhadap
intensitas perkembangan spasial di daerah pinggiran kita apabila peraturan
daerah yang ada dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.
Faktor prakarsa pengembang
mempunyai peranan yang kuat dalam mengarahkan pengembangan spasial suatu kota.
4. Lahan
dan Tanah
Berdasarkan terminologinya, tanah
memiliki tiga pengertian (Sandi 1977, dalam Sadyohutomo, 2008) :
a. Tanah dalam arti tubuh tanah (soil) adalah sebagai media tumbuh
tanaman atau sebagai tumpuan fondasi bangunan.
b. Tanah dalam
arti materi yang dapat diangkut atau dipindahkan, misalnya tanah urug, pasir,
dan sebagainya yang dapat diukur dengan satuan volume misalkan meter kubik
(m³).
c. Tanah dalam arti bentang lahan
(land), mencakup lapisan permukaan bumi dan ruang di atasnya sebatas yang
berkaitan dengan penggunaan tanah tersebut, dalam
artian sebagai benda tak bergerak (ruang) yang
dapat diukur dengan satuan luas misalkan meter persegi (m²) dan Ha.
Dalam penelitian ini, lahan diartikan sebagai benda
tak bergerak, namun dapat dipindahkan status pemilikannya.
5. Penggunaan Lahan
Berdasarkan Ritohardoyo (2009) penggunaan lahan
memiliki banyak definisi dan pengertian namun semuanya mengacu pada makna yang
sama, yakni berkaitan dengan kegiatan manusia di permukaan bumi untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Kajian penggunaan lahan secara rinci mencakup enam aspek,
yakni subjek, objek, bentuk, orientasi, metode, dan hasil penggunaan lahan.
Aspek-aspek penggunaan lahan dalam penelitian ini
memiliki konsep yang lebih luas pada beberapa aspekBentuk dan luas penggunaan
lahan yang diteliti adalah perubahannya, yakni perubahan pemanfaatan yang
pernah dilakukan, misalnya dari sawah lahan basah menjadi perumahan. Perubahan
bentuk penggunaan lahan tersebut akan berdampak pada perubahan orientasi
penggunaan lahan. Lahan sawah yang digunakan sebagai lahan produksi tanaman
pangan memiliki orientasi untuk dapat produktif sehingga tidak hanya digunakan
untuk memenuhi kebutuhan pribadi namun juga dapat dijual.Lain halnya ketika
kemudian berubah menjadi tempat tinggal yang mana lebih berorientasi pada
pemenuhan kebutuhan pribadi atau subsisten.
Aspek metode penggunaan lahan memiliki makna yang
sedikit lebih luas. Pada awalnya metode berkaitan dengan cara pengolahan lahan
pertanian untuk memperoleh hasil yang maksimal, misalkan dengan pemupukan,
penyiangan, pengolahan, dan sebagainya seperti pengairan. Namun, metode
penggunaan lahan dalam hal ini adalah cara dalam mendapatkan lahan maupun dalam
mengelola lahan. Misalkan seseorang membeli perumahan dengan cara kredit,
menyicil atau seseorang membeli lahan, dibangun rumah kemudian dikontrakkan,
maka hal ini juga disebut sebagai metode penggunan lahan. Perubahan bentuk,
orientasi, dan metode penggunaan lahan tentu saja akan mengakibatkan hasil dari
penggunaan lahan ini
juga berubah. Hasil pemanfaatan lahan untuk
kegiatan pertanian dapat dihitung dari jumlah panen atau volume komoditas yang
ada. Kondisi ini berubah ketika lahan telah terkonversi menjadi rumah atau ruko
maka hasil yang diperoleh dapat dihitung berdasarkan nilai bangunan atau harga
sewa yang berlaku.
6. Penguasaan
dan Pemilikan Lahan
Menurut Sadyohutomo (2008)
hak-hak terhadap lahan mencakup hak memiliki, menguasai, menggunakan, dan
mengalihkan hak atas lahan tersebut. Seseorang yang menguasai lahan belum tentu
memiliki hak atas pemilikan lahan tesebut, misalkan penyewa lahan.Menurut
status penguasaannya, tanah atau lahan dapat dibedakan menjad 3 kategori,
yaitu:
A. Tanah Hak Milik Pribadi; B. Tanah Marga atau
Tanah; C. Tanah Negara.
Dinamika
|
|
|
|
|
|
Lahan
Perkotaan
|
|
||||||
Penduduk
|
|
|
|
|
|
|
|
Terbatas
|
|
||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Kondisi
Wilayah :
|
|
|||
|
|
|
|
Kebutuhan Lahan
|
|
||||||||
|
|
|
|
|
|
-
Aksesibilitas
|
|
||||||
Kondisi
|
|
Meningkat
|
|
|
|
||||||||
|
|
|
-
Fasilitas
|
|
|||||||||
Demografi
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|||||||||
|
|
|
|
|
|
|
Pelayanan
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
Pertumbuhan
|
|
||||||||
|
|
|
|
|
|
-
Karakter Lahan
|
|
||||||
|
|
|
|
Perumahan di
|
|
|
|
||||||
Aktivitas
|
|
Pinggiran Kota
|
|
|
-
Pemilikan Lahan
|
|
|||||||
Penduduk
|
|
|
|
|
|
|
- Tata
Ruang
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|||||||||
|
|
|
|
Perubahan
|
|
-
Prakarsa
|
|
||||||
|
|
|
|
Penggunaan
Lahan
|
|
|
Pengembang
|
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
Perubahan
|
|
Perubahan Bentuk
|
|
Perubahan
|
|||||||||
Luas
|
|
Penggunaan Lahan
|
|
|
|
OrientasiPenggunaa
|
|||||||
|
|
|
|
|
|
||||||||
|
Perubahan Metode
|
|
Perubahan Hasil
|
||||||||||
|
Penggunaan
Lahan
|
|
Penggunaan Lahan
|
|
|||||||||






Perubahan Kondisi
Sosial Ekonomi
Gambar 1. Diagram Kerangka Pemikiran METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan untuk penelitian
ini adalah metode survei.Lokasi penelitian dipilih berdasarkan kelengkapan data
dan kesesuaian dengan tema yang akan diteliti.Kecamatan Mlati memiliki kondisi
yang mewakili tema, karena kecamatan ini termasuk
dalam Kawasan Perkotaan Kota Yogyakarta, salah satu kecamatan yang
paling banyak dibangun perumahan, baik skala besar maupun kecil. Selain itu,
ketersediaan data penggunaan lahan di Kecamatan Mlati juga lebih lengkap dan
lebih mutakhir apabila dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Tentu saja hal
ini juga menjadi salah satu pertimbangan utama dipilihnya Kecamatan Mlati
sebagai lokasi penelitian.
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri
dari data primer dan data sekuner. Data primer diperoleh dari proses observasi
dan wawancara dengan responden, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi
pemerintahan di lingkungan Kabupaten Sleman.
Responden dalam penelitian ini adalah penduduk di
Kecamatan Mlati yang menjual lahan miliknya dan kemudian lahan tersebut
dibangun perumahan. Metode sampling yang digunakan adalah Multi-stage Cluster Sampling karena pemilihan satuan sampling
dilakukan lebih dari dua kali. Jumlah responden ditentukan dengan kuota, yakni
60 responden. Jumlah ini ditentukan dengan asumsi keterwakilan variasi
informasi dari responden dan dat dapat
terdistribusi normal sehingga dapat dilakukananalisis statistik.
Data sekunder diperoleh dari BAPPEDA dan dinas
terkait. Semua data diolah secara kuantitatif untuk mencapai tujuan penelitian.
Analisis pembangunan perumahan menjelaskan pola sebaran dan perkembangan
pembangunan perumahan. Analisis peta dengan overlay
dilakukan untuk memperoleh data perubahan penggunaan lahan. Hubungan antara
luas pemilikan lahan dan pendapatan responden dapat diketahui dengan melakukan
uji korelasi
bivariate.Analisis perbandingan T-Test digunakan untuk membandingkan
nilai rata-rata untuk variabel luas, bentuk, dan pendapatan responden, sebelum
dan sesudah pembangunan perumahan.
Tabel
2.DataPrimer dan Data Sekunder



A.
Data
Primer
Karakteristik Responden
Jenis
Kelamin
Status dalam Keluarga Usia Responden Pendidikan (Tahun Sukses)


Jenis
Pekerjaan
Perubahan Penggunaan Lahan dan Kondisi Sosial
Ekonomi Penjual Lahan
Luas Pemilikan Lahan Luas Jual atau Beli Lahan Alokasi hasil penjualan
lahan
Bentuk, Orientasi, dan Metode Penggunaan lahan
Pendapatan
Penjual Lahan
B. Data Sekunder

Karakteristik Fisik Daerah
Penelitian Karakteristik Demografis

Jumlah, Kepadatan, dan Komposisi Penduduk Dokumen Perencanaan dan Pemetaan

Data Izin Pembangunan Perumahan tahun 2004-2011
Peta Penggunaan Lahan tahun 2001, 2007, dan 2011

HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah penduduk yang semakin
meningkat berbanding lurus dengan kebutuhan lahan dan tempat
tinggal.Pembangunan perumahan yang terjadi di Kecamatan Mlati memberikan dampak
yang besar terhadap perubahan bentuk penggunaan lahan.Perumahan tidak hanya
dibangun di desa-desa yang dekat dengan kawasan perkotaan saja, namun sudah
merambah ke desa-desa di pinggiran yang merupakan kawasan pertanian.
Pembangunan perumahan di
Kecamatan Mlati dalam kurung waktu tahun 2004 hingga 2011 mencapai 68kompleks
atau rata-rata tiap tahun ada delapan (8) kompleks perumahan baru. Data
pembangunan perumahan ini berdasarkan izin yang diterbitkan oleh Pemerintah
Kabupaten Sleman.Konsentrasi pembangunan perumahan secara umum terdapat di dua
desa, yakni Desa Sinduadi dan Desa Sendangadi.Kedua desa ini berdasarkan data
Kantor Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah memang merupakan kawasan
pengembangan permukiman kepadatan tinggi.
Berdasarkan gambar 2, pada tahun 2004
jumlah perumahan yang dibangun di Kecamatan Mlati paling banyak ada di Desa
Sinduadi yakni mencapai 10 kompleks perumahan. Akan tetapi pada tahun-tahun
berikutnya, jumlah perumahan paling banyak justru dibangun di Desa
Sendangadi.Kondisi ini menunjukkan adanya
perubahan arah dan pola perkembangan perumahan di Kecamatan Mlati.
Perkembangan perumahan menunjukkan pola mengarah ke
luar kawasan perkotaan. Desa Sendangadi secara spasial memang berada di utara
Desa Sinduadi dan letaknya lebih jauh dari perkotaan. Perubahan pola
pembangunan perumahan di kawasan pinggiran menunjukkan adanya kejenuhan di
kawasan perkotaan dan sekitarnya. Berkembangnya kawasan pinggiran kota sebagai
lokasi utama pembangunan perumahan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, mulai
harga lahan, dari prakarsa pengembang, faktor fisik lingkungan,kebijakan
pemerintah maupun minat konsumen atau pasar.

15
10
5
0
2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011




Gambar 2. Perkembangan Perumahan
2004-2011
Sumber : Kantor DPPD Kabupaten Sleman, 2012
Perubahan penggunaan lahan adalah suatu keniscayaan
sebagai konsekuensi dari adanya perkembangan wilayah. Perkembangan jumlah
penduduk dan variasi kegiatan penduduk berakibat pada meningkatnya kebutuhan
lahan dan perubahan penggunaan lahan. Berdasarkan tabel 2, pada periode
2001-2007 peningkatan luas lahan non pertanian paling cepat terdapat di Desa
Sinduadi.Desa yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta ini mengalami
pertambahan luas lahan non pertanian sebesar 18,39 Ha/tahun. Laju perubahan
penggunaan lahan di Kecamatan Mlati pada periode ini mencapai 39,86 Ha/tahun.
Pada periode 2007-2011, laju perubahan penggunaan lahan cenderung menurun
danlebih rendah apabila dibandingkan dengan periode sebelumnya. Kecepatan
konversi lahan pertanian menjadi lahan pertanian per tahunnya 17,81 Ha. Desa
Sumberadi
mengalam i pengura gan luas lahan pertanian terbesar pad a periode inidengan
5,68 Ha/tahun. Data laj perubah an penggunaan lahan pada dua periode waktu ter
ebut menunjuk an adan a variasi spasial dan temporal.
Tabel 2. Laju Peru bahan Luas Pengguna n Lahan
Kecamatan Mlati Tahun 2007-201 1
|
|
|
|
Per ode 1
|
|
|
|
|
Periode
|
2
|
|
|||||
|
|
|
|
(2001 -2007)
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
Desa
|
|
|
|
|
|
|
(2007-2011)
|
|
|||||||
|
|
|
Laju
|
|
|
(%)
|
|
|
|
|
Laju
|
|
(
|
%)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||
|
|
|
|
(ha/th)
|
|
|
|
|
|
|
ha/th)
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||
|
Sendanga
di
|
9,
|
3,62
|
5,52
|
1 ,25
|
|
||||||||||
|
Sinduadi
|
18,3
|
4,06
|
1,16
|
0 ,15
|
|
||||||||||
|
Sumbera
di
|
4,0
|
1,55
|
5,68
|
1 ,34
|
|





di
wilayah
|
tempat
|
tin ggal mereka.Berdasar kan
|
|||
gambar
|
3,
|
dapat
|
dik etahui
|
bahwa
|
mayor tas
|
penjual
|
lah n memiliki luas
|
lah n
|
akhir y ang
|
||
l ebih
sempit daripada luas lahan yang dimiliki
sebelum m enjual
laha n. Sebesar 73,3% ari
responden s elisih lahan awal dan lahan ak hir negatif yang berarti tid
k ada perta mbahan la han yang
lebih luas dari pada
lahan yang dijual sebelumnya Hanya 26 ,7% penjual lahan y ang embeli la
han yang lebih luas d aripada la han
yang dijual.

Selisih Pemilikan L han Awal d n Akhir
|
Tirtoadi
|
3,9
|
2,19
|
2,06
|
0 ,70
|
|
|||||
|
Tlogoadi
|
4,3
|
2,53
|
3,39
|
1 ,18
|
|
|||||
|
Total
|
|
39,8
|
|
3,03
|
|
17,81
|
|
0
|
,80
|
|



26,7%
73,3%


|
Sumber:
|
Anali is
|
Peta
|
Penggunaan
|
Lahan,2013
|
|
|
|
|
|
Perbeda an
|
laju perubahan
|
ahan pert nian
|
menjadi la han non pertanian pa da dua pe riode ini
diseba kan oleh eberapa h l.Salah satunya adalah terbitnya Per turan Bupati
no.11 tahun 2007 te tang Pe gembanga n Perum han. Peraturan ini mem berikan
batasan dalam pembangunan perumahan. Hal tersebut sedikit banyak m emberikan
pengaruh positif pada pengurangan laju konversi lahan pertanian.
Rata-ra ta luas lah a n akhir ya
ng dimiliki oleh para responden bila dibandingk an dengan rata-rata lua s lahan
awal b erbeda s e cara nyata.Sepa ruh dari m ereka saat i ni memiliki luas
lahan kurang dari 2.000 m².Kondisi ini disebabka karena se bagian bes ar para
penjual lahan mengalokasika n hasil penjualan lahannya
untuk m menuhi
k ebutuhan
|
yang
|
sif tnya
|
||
konsumtif.
|
|
|
|
|
Hasil penjualan
|
lahan
|
pada
|
umu mnya
|
|
dialokasik an
|
untuk
|
memenu hi
kebutuhan
|
||
konsumtif,
|
misalnya
|
memb angun
|
rumah,
|
merenovasi rumah, m emnuhi kebutuhan sehari-hari,
me mbeli ken araan untuk anak, dan sebagainy . Respond en yang membeli lahan
dengan ua ng hasil penjualan l han jumlahnya hanya 27 responden saja.
Mayoritas respond en saat ini memiliki
luas lahan yang lebih sempit daripada luas lahan yang sebelum kompleks peruma
an berkembang
Gambar 3 .DiagramSelisih Pemilikan Lahan
Sumber :
Has l Analisis, 2012
Analisis
untuk menentukan per ubahan bentuk
penggunaan lahan akibat pembangu nan
perumahan ada dua. Pertama te rkait den gan konversi lah an yang dijual
maup un lahan y ang dimiliki res ponden.Lahan yang dijual oleh para responden s
ebagian bes ar telah berubah menjadi
l ahan
|
terbangun.
|
Dat a
|
menunjukkan
|
71,02%
|
|||||
l ahan
|
ter ebut
|
|
tel ah
|
|
berub ah
|
menjadi
|
|||
perumahan. Lahan pert anian yang
|
dimiliki oleh
|
||||||||
para
|
responden
|
|
jug a
|
mengal mi
|
konv ersi
|
||||
enjadi
|
la han
|
terbangun.
|
Setid aknya
|
seluas
|
|||||
19.143 m²atau
|
|
35,03%
|
dari
|
seluruh
|
la han
|
||||
pertanian
|
y ang
|
dimiliki
|
|
para
|
penjual
|
la han
|
|||
berubah me njadi lahan terbangun.
|
|
|
|
||||||
Analisis yang
|
ke-dua
|
berkaitan
|
|
den gan
|
|||||
dominasi
|
b entuk
|
peng gunaan la han awal dan
|
|||||||
akhir.
Persentase luas lahan perta
|
ian awal para
|
||||||||
responden ecara keseuruhan men
capai 87,83 %.
B ahkan
37 responden
|
memiliki persentase la han
|
|||||
pertanian
|
d alam
|
klasifikasi
|
tinggi
|
yakni
|
dia tas
|
|
66%.
Perubahan
|
dominasi
|
bentu k
|
penggun aan
|
|||
l
ahan akhir terlihat
|
dari besarnya
|
la han
|
||||
t erbangun
|
y ang
|
mencapai
|
50,16%. Mayor itas
|
|||
responden
|
juga
|
me
|
iliki
|
pers entase
|
la han
|
pertanian
y ng masuk klasifikasi rendah yakni
encapai
|
40
|
responden.Fak ta
|
tersebut
|
enunjukkan
|
|
pem
bangunan
|
peruma han
|
|
Tabel 2.Klasifik asi Persentase
|
|
Lahan
|
|||||||||||
Pertanian
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
No
|
|
|
Klasifikasi
|
|
|
Batas Klas
|
|
|
Respon
|
en
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
Awal
|
|
Akhir
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||
1
|
|
|
Rend ah
|
|
0 – 33,33%
|
7
|
|
40
|
||||||
2
|
|
|
Sedang
|
|
33,34 –
|
16
|
|
6
|
||||||
|
|
|
66,67%
|
|
|
|||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
|
|
Tinggi
|
|
66,67-
|
|
37
|
|
14
|
|||||
|
|
|
100%
|
|
|
|||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Total
|
|
|
|
60
|
|
|
|
60
|
||
|
Sumber : Hasil Analisis, 2012
|
|
|
|
|
|
|
Orientasi dan metode penggunaan
lahan pertanian yang dimiliki oleh par a penjual lahan sebelum dan sesudah
menju al lahan pada umumnya sama. Hal ini karena obyeknya sama, yakni lahan
pertanian. Berbeda engan orientasi dan metod e penggunaan lahan terbangun yang
mengalami perkembangan.Lah an terbangun yang dimilki oleh p ara penjual lahan
saat ini bersifat l ebih kom rsil.Pada awalnya lahan terbangun yang dimiliki
oleh pa r a penjual lahan ini hanya berupa ru ah tinggal dan semuanya digunakan
sendiri oleh pemilikn ya.Sebanyak 15 dari 60 responden mengaku bahwa lahan
terbangun yang dimiliki saa t ini be rsifat komersil. Lahan terb angun yan g
berupa ru mah tinggal na mun sudah menjadi rumah kontr kan, ditambah amar-kam r
kos, maupun toko.
Perilak
|
merubah
|
fungsi
|
l han
|
terbangun
|
||
berupa
|
rumah
|
m
enjadi
|
l bih
|
kom ersil
|
||
merupakan
|
suatu ben tuk penye suaian.Tindakan
|
|||||
ini meru pakan
|
a
|
aptasi
|
a kibat
|
sem akin
|
||
sempitnya
|
lahan
|
yang
|
dimiliki
|
dan
|
||
perkemban
gan
|
wilayah
|
d
|
Kecam atan
|
|||
Mlati.Kondisi
ini menunjukkan pembangunan perumahan secara um um tidak b erdampak pada metode
dan orientasi ahan perta nian.Akan tetapi pembangu nan perumahan mengakib tkan
perubahan metode dan orient si penggunaan lahan terba ngun.
Rata -ra ta pendap atan para
penjual l ahan setelah menjual lahan lebih ting i daripada rata-rata pend
apatan m ereka seb elum menjual lahan.Data pendapatan responden menunjukkan
rata-rata pendapatan penjual lahan setelah menjual l han secar a umum
meningkat.S lisih rata-rata pendapatan awal dan khir responden mencapai
191.138,90 rupiah.A ngka rata-rata pendapata n dapat menjelaskan kondisi eko
nomi
para
respon den secara keseluruha secara relatif dalam arti p endapatan secara
keseluruhan.
Analisis lebih mendalam mengenai
perubahan p endapatan dapat men
ggunakan data
asing-masing
|
rumah
|
tangga.Fakta
|
|||
enunjukkan bahwa jumlah
|
re ponden
y ang
|
||||
engalami
|
peningkat an pendapatan
|
ada
|
25
|
||
responden
|
atau
|
me capai
|
41,7%.
|
Jumlah
|
|
responden
|
ang
|
penda patannya
berkurang
|
ada
|
20 responden (33,3%) dan sisany a
sebanyak 15
responden
( 25%)
|
tidak
mengalami
|
peruba han
|
|
pendapatan. Data
|
tersebut
|
dapat
|
diguna kan
|
untuk
menarik kesimpulan bahwa
|
meski r ta-
|
||
rata pemilikan
lahan yang
|
se makin
sem pit
|
||
namun pend apatnnya tidak berkurang.Fakta ini dipengaruhi oleh pek
erjaan uta ma respon den yang pada umumnya bu kan di sektor pertania n.

25% 33.30%
41.70%
Berkurang



Gambar 3. Se isih Penda patan Sumber : Has l
Analisis, 2012
Hubungan antara luas pem ilikan la han dengan pen dapatan jug a
menujukkan hubun gan
yang
lemah.Hal
|
ini be rarti
|
sema kin
|
sempit nya
|
||||||||
l ahan
|
per tanian
|
ti
|
ak
|
berd ampak
|
d apa
|
||||||
penguranga
|
pendapatan
|
respon en.Dua fakta
|
|||||||||
i ni dapat m enjelaskan
|
mengapa pembangu nan
|
||||||||||
perumahan
|
tidak
|
ber
|
ampak
|
si gnifikan p ada
|
|||||||
pendapatan
responden
|
tau
penjua l lahan.
|
||||||||||
ESIMPU LAN
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
1.
Pembangunan
|
per
mahan
|
di
|
Kecamatan
|
||||||||
Mlati
|
s ejak
|
|
tahu n
|
2004
|
hingga
|
2 11
|
|||||
mencapai 68 unit. Data ini
berdasarkan izin
|
|||||||||||
yang dite rbitkan oleh Pemerintah Kabupaten
|
|||||||||||
Sleman. Pembangunan perumahan
|
terpu sat
|
||||||||||
terdapat
|
di dua des a,
|
yakni
|
esa
|
Sinduadi
|
|||||||
dan Desa
|
Sendanga di. Informasi dari
Kan tor
|
||||||||||
Dinas
|
|
engendalia n
|
Pertan ahan
|
|
Daerah
|
||||||
menunju kan ke-dua desa ters ebut mem ang
|
|||||||||||
direncana kan
|
sebagai
|
kawasan permukim an
|
|||||||||
kepadata n
|
tinggi.
|
|
Peningkatan
|
|
jumlah
|
||||||
pendudu
|
|
berban ding
|
|
lurus
|
|
|
den gan
|
||||
kebutuhan
|
lahan
|
dan
|
tem pat
|
|
ting gal.
|
||||||
Pembangunan
|
perumahan yang
|
terjadi di
|
Kecamatan Mlati memberikan dampak
yang besar terhadap perubahan bentuk penggunaan lahan. Laju perubahan
penggunaan lahan menunjukkan variasi spasial dan temporal. Pada periode
2001-2007, laju perubahan penggunaan lahan menjadi lahan non pertanian paling
cepat di Desa Sinduadi yakni mencapai 18,39 Ha/tahun. Laju perubahan penggunaan
lahan pada periode 2007-2011 paling besar ada di Desa Semberadi yakni mencapai
5,68 Ha/tahun.
2.
Pembangunan perumahan di
Kecamatan Mlati memberikan dampak pada pengurangan luas pemilikan lahan
penduduknya. Rata-rata luas lahan akhir yang dimiliki oleh para responden bila
dibandingkan dengan rata-rata luas lahan awal berbeda secara nyata. Mayoritas
responden memiliki lahan kurang dari 2.000m² bahkan separuh dari responden saat
ini memiliki lahan yang luasnya kurang dari 1.000 m². Kondisi ini disebabkan
karena sebagian besar para penjual lahan mengalokasikan hasil penjualan
lahannya untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya konsumtif.
3.
Peningkatan kebutuhan lahan
perumahan penduduk mengakibatkan perubahan bentuk penggunaan lahan. Analisis
untuk menentukan perubahan bentuk penggunaan lahan akibat pembangunan perumahan
dapat dilihat dari dua kondisi. Pertama, terkait dengan konversi lahan yang
dijual responden dan yang lahan yang dimiliki oleh responden. Lahan pertanian
yang dijual oleh para responden sebagian besar telah berubah menjadi lahan
terbangun. Data menunjukkan 71,02% lahan pertanian yang menjadi obyek jual beli
telah berubah menjadi lahan terbangun. Lahan pertanian yang dimiliki oleh para
responden juga menunjukkan adanya perubahan menjadi lahan terbangun. Persentase
lahan pertanian responden yang terkonversi mencapai 35,03% dari seluruh lahan
pertanian. Analisis yang ke-dua berkaitan dengan dominasi bentuk penggunaan
lahan awal dan akhir. Mayoritas responden (37) memiliki lahan pertanian dengan
persentase luas lahan pertanian awal lebih dari 66,67% Kondisi pemilikan lahan
akhir menunjukkan kondisi sebaliknya. Mayoritas responden (40) memiliki lahan
pertanian dibawah 33,33%.
4.
Orientasi dan metode penggunaan
lahan pertanian yang dimiliki oleh para penjual lahan sebelum dan sesudah
menjual lahan pada umumnya sama. Hal ini karena obyeknya sama, yakni lahan
pertanian. Berbeda dengan orientasi dan metode penggunaan lahan terbangun yang
mengalami perubahan. Sebanyak 15 dari 60 responden mengaku bahwa lahan terbangun
yang dimiliki saat ini bersifat komersil. Perilaku tersebut menunjukkan adanya
adaptasi penduduk untuk menambah penghasilah karena ada perubahan yang ada di
wilayahnya. Rata-rata pendapatan para penjual lahan setelah pembangunan
perumahan lebih tinggi daripada rata-rata pendapatan mereka sebelum menjual
lahan. Selisih rata-rata pendapatan awal dan akhir responden mencapai
191.138,90 rupiah. Jumlah responden yang mengalami peningkatan pendapatan ada
25 responden atau mencapai 41,7%. Responden yang berkurang pendapatannya ada 20
responden (33,3%) dan sisanya sebanyak 15 responden (25%) tidak mengalami
perubahan pendapatan. Data tersebut dapat digunakan untuk menarik kesimpulan
bahwa rata-rata pemilikan lahan yang semakin sempit tidak berdampak negatif
pada mayoritas responden. Fakta ini didukung oleh data bahwa pekerjaan utama
para responden pada umumnya tidak terkait langsung dengan pengolahan lahan.
Mayoritas responden memiliki profesi di sektor non pertanian.
DAFTAR PUSTAKA
Bintarto dan Hadisumarmo, S.
1979. Metode Analisa Geografi. Jakarta:LP3ES.
Giyarsih, S.R. 2001. Gejala Urban
Sprawl Sebagai Pemicu Proses Densifikasi Permukiman di Daerah Pinggiran Kota
(Urban Fringe Area) Kasus Pinggiran Kota Yogyakarta. Dalam: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol 12.
Kuswartojo, Tjuk. 2005. Perumahan dan
Permukiman Indonesia. Bandung:
Penerbit ITB.
Ritohardoyo, Su. 2009.
Perencanaan Penggunaan Lahan. Yogyakarta: Fakultas Geografi.
Sadyohutomo, Mulyono. 2008. Manajemen Kota dan Wilayah;
Realita dan tantangan.Jakarta: Bumi Aksara.
UN-HABITAT.2002.Sustainable Urbanisation
: Achieving Agenda 21. London :
Information Departement DFID.
Yunus, Hadi Sabari. 2001. Perubahan
Pemanfaatan Lahan di Daerah Pinggiran
Kota (Kasus di Pinggiran Kota
Yogyakarta).Disertasi.Yogyakarta :
Fakultas Geografi.
________________. 2005. Manajemen
Kota :
Perspektif Spasial. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
0 komentar